ekonomi-syariah

Ayo,,,Syariahkan Bank Syariah

Perbankan Syariah pada saat ini tidak henti-hentinya untuk terus mengembangkan produk-produknya dan semangat ekonomi rabbani yang berlandaskan kepada al-Qur’an dan al-Hadits, berbagai macam cara dan strategi dilakukan untuk bisa menumbuhkan minimal bisa memenuhi target 5% dalam jangka waktu 1-5 tahun ke depan.

Semua itu, bukanlah hal mudah dilakukan karena, meskipun mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, Presiden muslim, Banyak pondok pesantren, perguruan tinggi agama Islam, ulama tidak bisa menentukan bank syariah akan mudah tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Masih banyak kendala yang dihadapi oleh perbankan syariah salah satunya adalah klaim bahwa di bank syariah masih ada ‘bunga syariah’, pembiayaan di bank syariah lebih mahal daripada bank konvensional, investor dikuasai oleh orang asing dan ‘aseng’, dan karyawan yang masih lulusan dari non ekonomi syariah atau perbankan syariah yang notabene tidak memahami akan produk, falsafah dan karakteristik ekonomi syariah.

jika kita runut dari konsep ekonomi syariah yang ada di perbankan syariah, jelas sekali bahwa konsep ekonomi syariah tunduk patuh kepada fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Di perbankan syariah juga terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang fungsinya untuk mengawasi kinerja dan produk-produk yang dikeluarkan dengan akad-akad syariah.

Dikatakan benar, jika bank syariah saat ini masih belum menjalankan konsep secara syariah, sebagai contohnya adalah konsep mudharabah yang belum sepenuhnya murni sesuai konsep syariah karena masih ada jaminan, padahal secara konsep, mudharabah adalah kerjasama yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang pemilik modal (shohibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola dengan keahlian yang dimiliki oleh pengelola, dalam hal ini manajemen keuangan dan shohibul maal menyerahkan modalnya atas dasar kepercayaan dengan mempertimbangkan peluang usaha yang dilakukan oleh pengelola.

Akan tetapi, mudharabah ini mesti dilakukan karena pada saat ini, revolusi mental dari nasabah belum sepenuhnya bisa berhasil yaitu kepercayaan dari shohibul maal menyerahkan modalnya untuk dikelola sedangkan pengelola masih tidak terbuka atas hasil dari usahanya jika penghasilan dari pengelola usaha sangat besar dan keterbatasan dari pihak bank untuk mengecek satu persatu nasabah dari neraca penghasilannya.

Ini menandakan bahwa bank syariah belum sepenuhnya syariah karena pembiayaan atau kerjasama pada dasarnya lebih mengarah kepada ta’awun bukan bisnis belaka.

Maka dari itu, wajib bagi kita khususnya pelaku ekonomi, akademisi, praktisi, ulama, dan muslim pada umumnya untuk mensyariahkan bank syariah dengan cara mendakwahkan ekonomi islam, bahwa ekonomi islam tidak melihat mahal atau murah, ribet atau tidak ribet, dan meyakinkan minimal dimulai dari lingkungan kita bahwasanya dalam berekonomi syariah haruslah dengan cara amar ma’ruf dan nahi munkar yang dalam hal ini tujuan ekonomi syariah adalah kesejahteraan umat.

sebagaimana ungkapan berikut

واذا كان جزءا من الاسلام الشامل فانه لا يمكن فصله عن بقية الانظمة الاسلامية من عقيدة وعبادة و أخلاق

Apabila ekonomi Islam menjadi bagian dari Islam yang sempurna, maka tidak mungkin memisahkannya dari sistem aturan Islam yang lain ; dari aqidah, ibadah dan akhlak (Mabahits fil Iqtishad al-Islamiy, hlm. 54)

Bismillah,,,kita bisa…

 <MIG/FSEI>