Pemikiran Schumpeter Sudut Pandang Ekonomi Islam

Sebelum membahas lebih jauh tentang pendapat atau argument dari banyak kalangan tentang perekonomian Islam dan menjawab pandangan miring dari pengembang ekonomi kontemporer atau lebih tepatnya ekonomi konvensional yang dalam hal ini disebutkan dari tokoh barat yaitu schupeter, maka lebih dahulu kita membagi pemikiran ekonomi dari dua segi. Kita lihat ekonomi dari sejarah perkembangannya dari kacamata barat dan sejarah ekonomi dari kacamata Islam.

Setelah pembahasan di atas kami akan mencoba menganalisis bagaimana sebenarnya perkembangan ekonomi pada masa klasik sampai pada masa sekarang dan bagaimana menjawab keraguan atau pendapat miring dari beberapa tokoh ekonomi yang pada kali akan dikerucutkan kepada tokoh Schupeter

Sejak manusia mengenal hidup bergaul dengan sosial, tumbuhlah suatu masalah yang harus dipecahkan bersama-sama, yaitu bagaimana setiap manusia memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing, karena kebutuhan seseorang tidak mungkin dapat dipenuhi oleh dirinya sendiri. Sejak saat itu muncullah ekonomi yang memang menjadi ilmu dalam memahami tentang kebutuhan dalam bertransaksi dengan manusia lain.

Di dunia barat sendiri memunculkan beberapa ilmu yang mengarah kepada bagaimana mengembangkan ekonomi untuk mensejahterakan hidupnya. Bahkan mencari cara mendapatkan apa yang di mau dengan cara apapun dan mengorbankan orang lain.

Menurut beberapa literatur menyebutkan bahwa sejarah teori yang terjadi dalam dunia barat lebih banyak melihat dari kejadian-kejadian yang ada yang menyangkut dengan ranah ekonomi, sehingga dengan adanya realitas yang ada pada masa itu maka mereka mencari dan membentuk formula baru dalam menciptakan teori ekonomi dan saat teorinya tidak sesuai dengan zaman berikutnya maka formula baru yang akan mereka cari kembali.

Dengan paradigma bahwa teori lahir karena adanya realitas sosial, maka di sana akan menciptakan suatu teori yang mengambang dan tidak konsisten sehingga pada waktu tertentu akan mengalami hambatan yang akhirnya mengalami kemunduran dan kehancuran.

Teori barat lebih banyak mengembangkan teori kapital yang berasal dari perilaku sosial dan realitas sosial di sana. Pemikiran Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yg filsafat sosial dan politiknya didasarkan kepada azas pengembangan hak milik pribadi dan pemeliharaannya serta perluasan faham kebebasan. Sistem ini telah banyak melahirkan malapetaka terhadap dunia. Tetapi ia terus melakukan tekanan-tekanannya dan campur tangan politis sosial dan kultural terhadap bangsa-bangsa di dunia. Seperti dikutip dari pendapat (tuan sufi dengan sumber-sumbernya) Pada 1958 ekonom Inggris Sir Philips menemukan hubungan antara inflasi dan pengangguran yang akhirnya dikenal dengan Philips Curve.

 Dengan menggunakan data dari 1861 sampai 1957, Philips menemukan ada trade off antara inflasi dan pengangguran di Inggris. Artinya, jika pengangguran rendah, inflasi tinggi. Sebaliknya, jika pengangguran tinggi, inflasi rendah. Akhirnya pemerintah mencari solusi dengan melakukan fine tuning. Artinya, jika pemerintah ingin menurunkan pengangguran dua persen, harus siap menerima inflasi (misalnya) sebesar lima persen. Jelaslah teori ekonomi ini ditemukan dari realitas yang terjadi pada masyarakat Inggris dalam kurun waktu hampir seabad itu.

Berbeda dengan sejarah perkembangan Ekonomi dalam Islam yang memang dari praktiknya sudah ada dari perkembangan ekonomi barat meski kita tahu sekarang bahwa ekonomi konvensional yang terlebih dahulu muncul di sini dan ekonomi syari’ah muncul belakangan. Akan tetapi itu tak menegaskan bahwa ekonomi Islam muncul karena ingin berbeda atau menjawab solusi pada masa sekarang tentang teori ekonomi yang menimbulkan krisis global.

Perjalanan sejarah mengarahkan kepada kita untuk mengetahui bahwa ekonomi Islam telah mengalami kehilangan pengakuan selama masa kemunduran hingga masa modernis. Hingga tiba saatnya terjadi upaya pengakuan kembali, setelah adanya pernyataan para kaum cendekiawan bahwa konsep rumusan ekonomi Islam yang telah digagas para ulama’ masa keemasan ketika Islam mengalami zaman kemunduran telah dilakukan tindak plagiatisme terhadap banyak segi keilmuannya.

Dalam bangunan ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai universal, yakni tauhid, keadilan, kenabian, hasil dan pemerintah. Kelima dasar ini yang dijadikan dasar untuk membangun teori-teori ekonomi Islam. Namun, teori teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem, akan menjadikan ekonomi Islam hanya sebagai kajian ilmu belaka.

Semua teori ekonomi Islam dan prinsip-prinsip ekonomi Islam hanyalah mengacu pada tujuan islam dan dakwah para nabi yaitu menggunakan akhlak. Oleh karena itu kelima nilai universal itu kemudian dibangun tiga prinsip yang menjadi ciri-ciri dan cikal bakal ekonomi Islam yaitu kepemilikan mulitjenis, kebebasan untuk bergerak atau usaha, keadilan sosial.

Semua yang terjadi dalam ekonomi Islam haruslah melalui prinsip-prinsip yang jelas telah ditentukan dan bukan karena adanya perilaku sosial dalam menentukan prinsip itu.

Perlu dikaetahui bahwasanya dalam sejarah ekonomi Islam, asal muasal ekonomi Islam sendiri dan memiliki sejarah yang berkesinambungan dari periode rasul dan diikuti oleh sahabat setelah rasul yaitu khulafa ar-rasyidin yang kemudian ada beberapa fase setelahnya sehingga awal ekonomi Islam jelas ada yang mulai dan jelas silsilah kemunculannya berbeda dengan ekonomi konvensioanal yang menurut beberapa tokoh mengatakan bahwa ekonomi Islam muncul setelah adanya ekonomi Konvensional. Jelas apa saja praktik yang dilakukan dunia Islam dan perilaku ekonomi dan hasil ekonomi dengan gamblang dijelaskan melalui pemerintahan Islam pada masa Rasulullah dan sahabat yang kemudian dilanjutkan dari pemerintahan setelahnya mulai fase awal hingga pemikiran kontemporer.

Dan yang jelas ekonomi Islam tetap bersumber kepada al-Quran dan ah-Hadits yang menjadi tuntunan awal dalam menentukan ilmu-ilmu dalam ekonomi.

Sejalan dengan ajaran Islam tentang pemberdayaan akal fikiran dengan tetap berpegang teguh pada Alquran dan hadis Nabi, konsep dan teori ekonomi dalam Islam pada hakikatnya merupakan respon para cendekiawan Muslim terhadap berbagai tantangan ekonomi pada waktu-waktu tertentu. Ini juga berarti bahwa pemikiran ekonomi Islam seusia Islam itu sendiri.

Berbagai praktek dan kebijakan ekonomi yang berlangsung pada masa Rasulullah saw dan al-Khulafa al-Rasyidun merupakan contoh empiris yang dijadikan pijakan bagi para cendekiawan Muslim dalam melahirkan teori-teori ekonominya. Satu hal yang jelas, fokus perhatian mereka tertuju pada pemenuhan kebutuhan, keadilan, efisiensi, pertumbuhan, dan kebebasan, yang tidak lain merupakan objek utama yang menginspirasikan pemikiran ekonomi Islam sejak masa awal.

Dalam memahami pemikiran Schumpeter, maka satu poin penting yang harus dipahami adalah konsep creative destruction. Creative destruction pada dasarnya merujuk kepada usaha dalam memecahkan berbagai halangan guna mencapai inovasi dan kemajuan, di mana kemajuan ini kemudian dirujukkan oleh Schumpeter ke dalam pengembangan teknologi itu sendiri. Apabila menuangkan diagram pemikiran Schumpeter, maka baginya siklus ekonomi adalah siklus yang selalu berputar karena dorongan pembangunan dan tidak pernah sampai pada satu titik keseimbangan tertentu. Ekonomi akan bergerak melalui tahap resesi dan booming. Jika inovasi belum membuahkan hasil, ekonomi akan mengalami resesi, sebaliknya jika inovasi sudah berjalan dengan baik, akibat didorong oleh injeksi kapital dari sistem perbankan, ekonomi akan bergerak ke arah optimis. Begitu seterusnya, sehingga sistem ekonomi kapitalis pada dasarnya akan bergerak dari resesi (burst) ke optmisis (boom).

Krisis finansial global yang berawal dari kasus kredit macet perumahan di Amerika Serikat, yang kemudian berkembang hingga tingkat global, pada dasarnya menunjukkan bagaimana inovasi seharusnya berkembang pada sektor riil dan tidak pada sektor sekuritas yakni real estate itu sendiri.[1] Bahwa perbankan seharusnya tidak memberikan kelonggaran suntikan dana pada para “spekulan” yang akan berinvestasi pada sektor non-riil. Kredit macet yang berkembang di Amerika Serikat pada sektor finansial ini pun kemudian berdampak secara masif pula terhadap sektor riil yang notabene akan berdampak secara langsung kepada roda perekonomian itu sendiri. Pada titik ini penulis setuju dengan pendapat Schumpeter yang melihat bahwa sektor finansial seharusnya tidak bergerak maupun berkembang secara mandiri karena pada dasarnya sektor finansial yang sangat rentan dengan langkah spekulasi adalah “borok” utama dari sistem kapitalisme itu sendiri.

Jika dikaitkan dengan ekonomi Islam, maka pendapat Schumpeter hanyalah menganggap sebelah mata pemikiran dan kontribusi Islam karena semua itu hanya dilihat setelah beberapa tahun dari geliat ekonomi Islam muncul, sehingga pendapat Schumpeter salah. Oleh karena itu kebangkitan ekonomi Islam sejak krisis ekonomi global hanya sebagai alasan agar ekonomi Islam tidak menggeliat lagi seperti yang pernah umat Islam rasakan pada masa Rasulullah.

Melakukan terobosan dalam mengembangkan sektor ekonomi seperti yang diungkapkan nya memang tidaklah salah akan tetapi tetap tidak akan menemui titil kejelasan jika tetap mengandalkan ekonomi konvensional tanpa adanya sikap dan aturan-aturan yang jelas seperti dalam ekonomi Islam.

Di sini juga jelas bahwa pendapat Schumpeter tentang asal mula ekonomi berawal dari barat dibantah keras dengan adanya argumen Schumpeter menyebut dua kontribusi ekonom Scholastic yaitu penemuan kembali tulisan-tulisan Aristoteles dan St. Thomas Aquinas, Schumpeter hanya menulis tiga baris dalam catatan kakinya bernama Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dalam kaitan proses transmisi pemikiran Aristoteles kepada St Thomas, maka jelas bahwa pendapat miring yang dilakukan Schumpeter atas ekonomi Islam yaitu sejarah klasik tidaklah benar dan hanya karangan saja sehingga pemikir Ekonon Islam tetap tak akan berkembang dan tetap tenggelam.

Schumpeter berusaha menafikan kontribusi peradaban Islam terhadap evolusi perkembangan ilmu pengetahun (intellectual evolution) sampai zaman modern ini. Di saat Islam mencapai puncak kejayaannya di Cordova, kehidupan orang Eropa masih berada pada titik peradaban yang terendah. Kehidupan bangsa Eropa mulai berubah ketika mereka mulai bersentuhan dengan peradaban Islam di Andalusia (Spanyol).

Pada hakekatnya, peradaban Islamlah yang menjembatani kontinuitas peradaban Yunani sampai ke Eropa dan Barat. Namun masa kejayaan Islam ini berusaha ditutup-tutupi oleh sebagian ilmuwan Klasik Barat  dengan memunculkan istilah “Great Gap” atau “Blank Centuries”.

Masa kejayaan Islam yang berlangsung lebih dari 6 abad lamanya telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan klasik Islam beserta karya-karya monumentalnya yang sampai saat ini masih menjadi rujukan kaum intelektual di kalangan Islam maupun Barat dalam berbagai disiplin ilmu zaman modern ini.

Moh Idil Ghufron, M.EI adalah Dosen di Fakultas Syariah & Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Syariah IAI Nurul Jadid

[1] Malcolm D. Knight, “Globalisation and Financial Markets”, diakses dari http://www.bis.org/speeches/sp060522.htm, pada tanggal 17 Februari 2010, pukul 00.07.